Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts

Thursday, March 1, 2018

Jum’at manis Bersama Syekh Prof Dr Muhammad Fadhil al-Jailani


Jum’at manis Bersama Syekh Prof Dr Muhammad Fadhil al-Jailani

Sukorejo – pondok pesantren salafiyah syafi’iyah setiap jum’at manis pasti mengadakan acara istighosah yang bertempat di masjid jami’ ibrahimy. Namun kegiatan jum’at manis kali ini berbeda dengan biasanya, karena pada kesempatan jum’at manis kali ini di datangi tamu agung dari turki yang termasuk salah satu keturunan syech abdul qodir Al Jailani.

Seych Fadil al Hasani al Jailani beliau temasuk cicit dari syech abdul Qodir al Jailani namun beliau tidak ikut acara dari awal kegiatan dimulai dikarenakan beliau masih istirahat di dhelem Pengasuh selain kedatangan tamu dari turki. Pada acara jum’at manis kali ini juga kedatangan tamu Ust. Nasir Mansur Idris beliau termasuk teman seperjuangan dari pengasuh pesantren Kiai Azaim Ibrahimy ketika mondok di Sayyid Muhammad Alawi Al maliki Al Hasani di makkah Al mukarromah.

Seperti biasa acara dimulai dengan pembacaan do’a iftitah yang dipimpin oleh pengasuh kiai azaim. Setelah pembacaan iftitah selesai dilanjutkan dengan pembacaan barzanji yang dipimpin oleh pengasuh pesantren sambil lalu diselingi dengan lagu-lagu nasyid dari grup hadrah hassan bin Tsabit dan juga dibantu oleh Ust. Nasir Mansur Idris dengan suara khasnya.

Setelah acara pembacaan barzanji dan sholawat pada baginda nabi selesai langsung dilanjutkan dengan pembacaan istighosah yang dipimpin oleh KH. Muzakki Ridwan dan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh pengasuh pesantren dan diakhiri dengan do’a penutup. Ditengah-tengah pembacan do’a penutup. Alhamdulillah syech Fadil Al Hasani Al Jailani datang dan berkumpul bersama kita didalam masjid.

Setelah pembacaan do’a selesai kiai azaim menyerahkan acara sepenuhnya kepada pemandu yang menjadi penerjemah pada waktu itu. Ada dua wasiat penting yang disampaikan oleh Seych Fadil kepada para santri dan simpatisan yang hadir pada acara jum’at manis tersebut.

1.  Anakku. Kalian harus jujur pada allah, manusia, diri sendiri dan semua makhluk karena jujur adalah derajat kedua setelah kenabiyan. Seperti sudah dijelaskan didalam Al Qur’an bahwasannya derajat itu ada 4 tingkatan yang pertama derajat kenabiyah, yang kedua derajat para siddiqin (orang-orang yang jujur), yang ketiga orang yang mati syahid dan yang ke empat yakni orang-orang yang sholeh.
Jika kalian jujur maka kalian akan masuk syurga bersama para siddiqin “tambah beliau”.
لا تحزن ان الله معنا
Beliaru juga berpesan untuk jangan bersedih karena allah selalu bersama kita.

2.  Jauhilah bohong dan dusta, karena dusta adalah tingkatan kedua setelah syetan. Dalam al Qur’an sudah jelas bahwasannya laknat allah itu ditimpakan kepada syetan dan yang kedua setelah syetan ditimpakan kepada pembohong  atau pendusta. Jika kita tidak tobat maka kita termasuk temannya syetan dan kelak kita dimasukan keneraka bersama syetan. Naudzubillah.
Sepantasnya kita selalu membersihkan diri dari kebohongan “tambah beliau”. Nah selanjutnya bagaimana caranya kita untuk membersihkan diri kita kebohongan dan dusta yakni dengan cara beribadah kepada allah dengan ikhlas. Bahkan saking jeleknya berbohong sayyid itu berpesan

“mulutmu berdarah itu lebih baik dari pada berbohong”
Selain beliau menyampaikan dua wasiat tersebut. Beliau juga menyampaikan tentang ilmu dan ahli Ilmu. “kaya bukanlah kaya harta, namun kaya yang sebenarnya adalah kaya Ilmu” Ucap beliau dengan menggunakan bahasa arab. Karena pertama kali yang allah ajarkan kepada para nabi adalah ilmu.

Bukan hanya tentang ilmu namun beliau juga menyampaikan tentang ahlil ilmu bahwasannya ahli ilmu itu seharusnya sangat menghormat terhadap guru-gurunya yang telah mengajarinya bahkan walaupun mengajari sebatas satu huruf sekalipun sebagaimana perkataan sayyidina Ali RA.

“Barangsiapa yang mengajariku satu huruf saja, maka aku jadi budaknya”

Kenapa ilmu begitu mulia, karena ilmu itu tidak akan pernah sirna bahkan sampai kiamat sekalipun. Ilmu itu akan tetap ada. ”Ucap Sayyid Fadil sambil menutup Ceramahnya”. Selain beliau menyampaikan materi-materi itu semua beliau juga menghadiahkan suatu kitab karangannya kepada Guru kita Kiai Azaim. Beliau juga berpesan kepada kiai untung mengajarkan kitab-kitab karangannya di pesantren salafiyah syafi’iyah sukorejo. Beliau juga mengijazahkan amalan-amalan syech abdul Qodir Al Jailanni dengan umum kepada para santri dan simpatisan yang hadir pada acara jum’at manis tersebut.

Saturday, February 3, 2018

Presiden restui perubahan Institut agama islam ibrahimy menjadi Universitas Ibrahimy (UNIB)

Situbondo  - Presiden Joko Widodo merestui perubahan status Institut Agama Islam Ibrahimy menjadi Universitas Ibrahimy Situbondo.




"Saya ingin menandatangani prasasti perubahan status Institut Agama Islam Ibrahimy menjadi Universitas Ibrahimy di Situbondo," kata Presiden Joko Widodo saat menghadiri Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren Salafiyah Safi`iyah Sukorejo, Situbundo, Jawa Timur, Sabtu.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo Situbondo pada tanggal 14 Maret 1968 mendirikan lembaga pendidikan tinggi dengan nama Universitas Ibrahimy, lalu pada 1988 nama itu berubah menjadi Institut Agama Islam Ibrahimy dan selanjutnya akan kembali berubah menjadi Universitas Ibrahimy dengan 3 fakultas.

"Dan setelah pulang, saya perintahkan segera Menteri Ristekdikti segera membuat surat keputusan Menristekdikti mengenai Universitas Ibrahimy selambat-lambatnya akhir bulan Februari ini, saya minta akhir bulan ini semua selesai," tambah Presiden yang disambut dengan tepuk tangan ribuan santri ponpes Salafiyah Safi`iyah tersebut.

Salah satu tokoh ponpes tersebut adalah almarhum KH Raden As`ad Syamsul Arifin yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 2016. Ia merupakan putra ulama besar Madura, KH Syamsul Arifin, juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

"Saya masih ingat tahun 2016 yang lalu almarhum popo KH Raden As`ad Syamsul Arifin dianugerahi gelar pahlawan nasional, sebuah gelar yang memang sangat pantas diberikan kepada beliau terutama jika kita ingat perjuangan beliau, jika kita ingat pengorbanan beliau, jika kita mendalami kembali pemikiran-pemikiran beliau di Nusantara dan untuk bangsa negara kita Indonesia," tambah Presiden.

Presiden mengaku ingin datang langsung ke Ponpes Salafiyah Safi`iyah itu karena saya ingin merasakan dan melihat langsung melihat langsung para santri yang mewarisi semangat dakwah dan kebangsaan KH Raden As`ad Syamsul Arifin.

"Dalam banyak kesempatan saya selalu bercerita bagaimana dunia Islam mengagumi Indonesia, dunia mengagumi Indonesia karena meski kita merupakan negara ddengan penduduk muslim terbesar di dunia tapi kita juga adalah bangsa yang sangat beragam, sangat majemuk, sangat bermacam-macam," ungkap Presiden.

Presiden pun sedikit menjelaskan perjalanannya ke Afghanistan pada 29 Januari 2018 lalu.

"Belum lama ini saya pulang kunjungan dari Afganistan, orang bilang `Pak Jokowi kok gak takut ya?` Ya takut tapi ini bukan urusan takut, tapi ini urusan membangun ukuwah kita, kita juga ingin membangun perdamaian umat, membangun ukuwah basariah kita ke negara-negara lain," tambah Presiden.

Ia pun meminta agar para kyai dan santri Ponpes Salafiyah Safi`iyah ikut menjaga nilai-nilai kerukunan.

"Saya mohon yang mulia para ulama, kyai, santri terutama Ponpes Salafiyah Safi`iyah Sukorejo agar kita selalu menyemai nilai-nilai kerukunan dan mempraktikkannya karena sudah menjadi kondrat kita bangsa Indonesia hidup dalam kemajemukan, keberagaman," tegas Presiden.

Hadir juga dalam acara tersebut Ibu Negara Iriana Joko Widodo; anak bungsu Presiden; Kaesang Pangarep; Ketua PPP Romahurmuziy; Menteri Sekretariat Negara Pratikno; Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofjan Djalil; Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan para pengasus Ponpes Salafiyah Safi`iyah.

 

 

Saturday, December 2, 2017

Sang Deklarator Hak Asasi Manusia Oleh KHR. Ach Azaim Ibrahimy


Di penghujung Dzul Qo’dah, tahun ke sepuluh dari pristiwa hijrah, kaum muslimin datang berdudyung-duyung menuju madinah, kota cahaya. Suasana begitu ramai, setelah sebelumnya tersiar bahwa baginda nabi Muhammad SAW hendak menunaikan ibadah haji di tahun ini. Mereka berasal dari berbagai penjuru daerah, datang dengan membawa kerinduan yang mendalam, merindukan momen terindah bersama Rosul Al-Musthafa, menunaikan haji dalam bimbingan kekasih yang sangat dicinta. Kerinduan ini telah bertahun-tahun terpendam di benak mereka.
Langit buru cerah, awan putih berarak menambah indah pesona. Hari itu, sabtu siang usai sholat dhuhur, Rasulallah SAW keluar meninggalkan kota makkah bersma seratus ribu lebih menusia pergi menuju makkah, lembah yang berkah, baitullah, Ka’bah yang mulia. Pergi untuk membimbing umat, mengajarkan agama dan rutinitas ibadah mereka, memenuhi persaksian, menyampaikan amanat, memberi wasiat yang terakhir dan mengambil sumpah serta perjanjiaan. Menghapus bekas-bekas kejahiliahan, mengajari yang bodoh, mengingatkan yang lupa, membangkitkan semangat yang malas dan memberi kekuatan pada yang lemah.
Baginda Rosullah berhaji hanya sekali, tak pernah melakukan sebelum dan sesudahnya. Momentum tersebut dikenal dengan haji wada’, karena pada saat itulah baginda menyampaikan ucapan perpisahan, Wadda’a (berpamitan) kepada para sahabat rosulullah SAW yang dengan iman, cinta dan kesetiaan, mereka telah tulus mendampinginya. Ketika itu baginda bersabdah, “wahai sekalian manusia, dengarlah aku, karena aku sungguh tak tahu, mungkin aku tak akan lagi berjumpa dengan kalian setelah tahunku ini !”.
Khalayak ramai yang hadir terkesiap mendengarkannya, lalu suasana berganti senyap. Sesaat kemudian keharuan menyelimuti hati mereka. Dan pada detik-detik berikutnya tangispun tak lagi tertahankan, memecah keheningan.
Di perut lembah tanah ‘Arafah, kala matahari tergelincir ke arah barat. Hari itu jum’at awal dzul Hijjah, baginda nabi menyampaikan khutbah yang begitu monumental, khutbah yang menjelaskan hak-hak asasi manusia. Sebuah mistaq (Perjanjian) yang menetapkan kaedah-kaedah islam, menghancurkan kaedah-kaedah kemusyrikan dan kejahiliahan. Menjaga jiwa raga, harta benda serta harkat dan mertabat manusia, melindungi kehormatan wanita, membela hak dan mengatur kewajibannya. Sebuah piagam yang dideklarasikan untuk mengatur intraksi sosial antara uman manusia, jauh sebelum orang-orang mengenal istilah Hak Asasi Manusia (HAM) – Kecuali sejak beberapa dekade terakhir ini – yang kemudian di sepakati oleh perserikatan bangsa-bangsa hingga menjadi sebuah ketetapan. Maka, tintapun kering diatas kertas, menorehkan berbagai hukum dan perundang-undangan.
Sedangkan mistak yang telah dideklarasikan baginda nabi SAW pada momentum haji wada’, telah lama menjadi sebuah sistem yang dilaksanakan, dan undang-undang yang diterapkan. Kaum muslimin telah mengamalkannya dengan aksi, bukan sekedar basa basi dan menjadikan sebagai manhaj mereka dalam hidup, bukan sekedar retorika belaka tanpa evektifitas dalam praktik kehidupan nyata, sebagaimana nasib yang dialami oleh hak asasi manusia dalam sistem dan ketetapan perserikatan bangsa-bangsa.
Haji yang telah di prakrikkan oleh rosulallah SAW, juga khutbahnya di ‘Arafah dan mina, sungguh telah menjadi sinar dan cahaya, menerangi jalan menusia menuju bahagia, meraih hidayah. Baginda telah menggandeng erat umat ini, membimbing mereka untuk mencapai derajat mulia dan sempurna.
Sungguh khutbah yang memberi kesan mendalam di jiwa. Sungguh, pesan yang serat akan makna, dan ajaran yang peripurna.
Di akhir khutbah, baginda rosul berwasiat agar umat ini senantiasa berpegang teguh kepada kitabullah. Selama mereka berpegang teguh pada kitabullah tak akan tersesat selamanya. Umat ini bertanggung jawab penuh atas eksistensi dan fungsi wahyu allah tersebut sebagai pedoman hidup mereka. Maka, ketika baginda rosul meminta persaksian atas tugas yang telah dilaksanakannya, para sahabatpun sengan segera serentak menjawab, “kami bersaksi bahwa engkau sunggu telah menyampaikan amanat, engkau sungguh telah menunaikan kewajiban teramat berat dan engkau juga telah memberikan nasehat kepada ummat !.”
Tatkala mendengarnya, raut wajah baginda tampak berseri-seri, menunjukan betapa bahagia perasaannya. Segera, setelah itu, ia mengangkat jemarinya kelangit, seraya bersabdah, “allahumma isyhad (ya allah saksikanlah)!” diulanginya sebanyak tiga kali. Terdengar begitu berarti.
Betapa berharganya pesan yang tekah disampaikan, betapa luhurnya nilai-nilai yang telah diajarkan sejak keberangkatan baginda nabi SAW pergi meninggalkan madinah, mengendarai unta Al-Qashwa’, hingga proklamasinya yang lantang membahana penuh kesungguhan, bersih dari kemusyrikan, dan suci dari riya’ serta kamunafikan, “allahumma hajjatan la riya-a fihi wala sum’ah !.”
Lalu bertahlil mentauhidkan allah, menyatakan penghambaan diri kepadanya, tuhan semesta alam, “labbaik allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al-hamda wa al-ni’mata laka wa al-mulk, la syarika laka !.”
Itulah sesungguhnya kalimat iman yang jujur- murni yang membuka pintu-pintu langit dan menggema menggetarkan penjuru bumi. Kalimat yang terucap dari bibir dan terlepas lekas dari tenggorokan orang-orang mukmin. Mereka mengulang-ulang pekikan kalimat tauhid itu, sambung menyambung bersama pemimpin agung, rasul pilihan, nabi akhir zaman, muhammad bin abdullah sebagai rahmat bagi  semesta alam, yang telah membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an kitab suci pembawa kedamaian.
Itulah saat penuh berkah yang pernah tercatat dalam sejarah dan bumi menjadi tempat yang paling berbahagia dengan adanya kafilah tersebut, kafilah orang-orang yang datang untuk memenuhi panggilan ilahi, penggilan allah yang maha tinggi. Bersama insan mulia yang telah menapakkan kakinya di lembah suci, dialah muhammad bis abdullah al-hasyimi. Juga bersama delegasi terhormat yang datang ke baitullah al-‘Atik untuk menyempurnakan rukun islam sebagai agama yang fitri.

Alangkah nikmat yang agung tiada tara dan risalah yang sangat mulia. Diturunkan dari langit tertinggi kepada penutup para rosul dan nabi, di hari yang paling utama, demi menyambut lahirnya hak asasi manusia, piagam paling berharga di kala bumi menghembus-terbangkan kedhaliman tirani yang merajalela.

Tuesday, April 11, 2017

Pesantren Sukorejo Jalin Kerjasama di Bidang Pendidikan dengan Turki dan Yordania

11 April 2017 menjadi hari terakhir dari seluruh rangkaian rihlah ilmiah  rombongan pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dan Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) Sukorejo Situbondo ke negara Turki dan Yordania. Rombongan terdiri dari Pengasuh Pesantren, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy dan Istrinya, Ny. Hj. Nur Sari As’adiyah, Rektor IAII, Prof. Dr. Abu Yasid, M.A., LL.M dan dosen IAII, Ny. Hj. Djuwairiyah Fawaid, M.Pd.I. Perjalanan ke luar negeri yang dimulai sejak 4 April tersebut bertujuan menjalin kerajasama pesantren dan perguruan tinggi. 
Penandatanganan Kerja sama
Di Turki rombongan melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Sulaimaniyah untuk menjalin kerjasama di bidang penyelenggaraan Tahfidzul Qur’an (Hafalan Alqur’an). Kunjungan ke Sulaimaniyah ini merupakan kunjungan balasan, setelah pada tahun 2012 yang lalu Pimpinan Pesantren Sulaimaniyah Turki pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dengan tujuan yang sama, yaitu menjalin kerjasama program tahfidzul Qur’an. 
Kepada Serambimata, Prof Dr. Abu Yazid mengungkapkan, dengan kunjungan ke negara Eropa Timur ini, pimpinan Pesantren Sukorejo ingin memastikan lebih konkret wujud kerjasama kedua pesantren, khususnya dalam program penyelenggaraan Hafalan Alqur’an.
“Selain ke Sulaimaniyah, rombongan juga ziarah ke tempat bersejarah seperti Masjid Biru dan Ayasofya. Masjid Biru adalah peninggalan bersejarah dai Sultan Ahmed yang mempunyai arsitektur menakjubkan. Ornamen masjid ini memantulkan cahaya warna biru sehingga diberi nama Masjid Biru. Sedangkan Ayasofya, mulanya adalah gereja yg dibangun oleh kekaisaran Bizantium/Romawi Timur pada abad ke-3 M. Istanbul yang saat itu bernama Constantinopel (قسطنطينية) tergolong kota paling besar di daratan Eropa. Sepuluh abad kemudian (abad ke-13 M) Kesultanan Saljuk dapat menguasai daerah ini yg kemudian berdirilah Kerajaan Turki Uthmani. Ayasofya pun berubah menjadi Masjid selama kurang lebih 6 abad. Nama Constantinopel yang tak lain adalah nisbat pada salah satu penguasa kerajaan Bizantium lalu diganti dengan nama Islam-bul yg kemudian lebih populer dengan sebutan Istanbul. Pasca jatuhnya kerajaan Turki Uthmani, penguasa baru negara Turki modern, Mustafa Kemal Attaturk, pada awal abad ke-20 M mengubah fungsi Ayasofya menjadi museum dan terbuka untuk umum”, papar Abu Yazid. 

Sedangkan di Yordania, kerjasama dilakukan oleh IAII dengan sejumlah mitra perguruan tinggi di sana. Sekurang-kurangnya ada tiga perguruan tinggi ternama yang menjadi destinasi kunjungan, yaitu Universitas Yarmuk di kota Irbit, Universitas Alil Bayt di kota Mafraq dan International Institute of Islamic Toungt (IIIT) di kota Amman. 
“Kerja sama ini dilakukam dalam  rangka berikhtiar untuk memajukan perguruan tinggi Islam berbasis pesantren. Di era global seperti sekarang  membuka jaringan internasional menjadi suatu keharusan”, tambahnya. 
Lebih jauh, guru besar bidang ilmu Filsafat Hukum Islam itu menjelaskan, IIIT adalah lembaga publikasi internasional di bidang pemikiran Islam. Materi kerjasama yang dijalin berkisar dalam bidang penelitian dosen yang bersifat kolaboratif, publikasi ilmiah dalam ilmu-ilmu keislaman, serta memfasilitasi dosen-dosen muda IAII yang hendak mengikuti program 5000 doktor Kementerian Agama di sejumlah perguruan tinggi timur tengah. Tak kalah pentingnya, kerjasama juga ditekankan pada pengembangan gagasan Islam moderat di tengah derasnya arus radikalisasi belakangan ini. 
“Menghadapi radikalisasi global kita tidak bisa bekerja sendirian. Kalangan perguruan tinggi harus aktif secara berkolaborasi mengembangkan gagasan untuk menampilkan Islam yang sesungguhnya, Islam rahmatan lil alamin”, harap pria yang menyelesaikan masternya di Syari’ah dan hukum (LL.M) di International Islamic University Islamabad Pakistan. 
Selain program kerjasama, rombongan juga melakukan rangkaian ziarah ke makam beberapa makam Nabi, seperti Nabi Syu’ab a.s., Nabi Ayyub a.s., Nabi Yusa’ bin Nun, Gua Kahfi, Citadel dan Laut Mati. Laut mati banyak dikunjungi karena mempunyai banyak keunikan. Di antaranya, mempunyai kadar garam cukup tinggi mencapai 32 persen sehingga semua benda seberat apapun terapung di permukaan laut. Karenanya, mandi di laut mati tidak harus bisa berenang karena dapat terapung dengan sendirinya. 
Selain itu, di sekitar pantai laut mati diyakini menjadi lokasi penduduk kaum nabi Luth a.s. yang pernah diadzab oleh Allah s.w.t. karena melakukan pelanggaran liwath (sodomi). Karena itu, di kawasan ini terdapat sebuah perkampungan terkenal yang sampai saat ini bernama Qaryatu Liwath (Desa Sodomi). 
Dokumentasi



https://serambimata.com/2017/04/11/pesantren-sukorejo-jalin-kerjasama-di-bidang-pendidikan-dengan-turki-dan-yordania/

Saturday, April 8, 2017

Sejarah Pesantren Nurul Jadid

Gambaran Umum Desa Karanganyar
Sebelum Karanganyar, desa tempat PP Nurul Jadid berdiri dikenal dengan nama Tanjung. Nama ini diambil dari nama sebuah pohon besar yang bernama Tanjung. Bukan hanya itu bunganya yang tumbuh dari pohon itu dinamai bunga Tanjung. Pohon besar tersebut berdiri tegak di tengah-tengah desa itu sejak zaman dulu. Kemudian pula masyarakat setempat menganggap pohon Tanjung mempunyai kelebihan dan keistimewaan. Tak heran, nama pohon itu diabadikan sebagai nama desa.
Nurul Jadid
Karanganyar sendiri adalah sebuah Desa yang terletak di Kecamatan Paiton. Sebuah desa kecil yang 
berada sekitar 30 km ke arah timur Kota Probolinggo Jawa Timur. Pada mulanya sebagian besar tanahnya tidak dapat dimanfaatkan. Itu karena karena Karanganyar masih merupakan hutan kecil yang banyak dihuni binatang buas. Sementara kehidupan masyarakatnya sangat memprihatinkan. Mereka menganut kepercayaan yang lebih mendekati Animisme dan Dinamisme. Hal itu terlihat jelas misalnya dengan keberadaan beberapa pohon besar yang menurut mereka tidak boleh ditebang. Pohon-pohon itu diyakini sebagai pelindung mereka.

Kenyataan lainnya adalah adanya upacara ritual dalam bentuk pemberian sesajen, utamanya ketika ada suatu hajatan. Sesajen itu disajikan kepada roh yang diyakini berada di sekitar pohon besar tersebut. Salah satu ritual itu dilakukakn ketika ketika musim tanam tiba. Sebelum panen, masyarakat menggelar sesajenan dengan cara patungan. Yaitu  beberapa anggota masyarakat  meletakkan ayam di beberapa  tempat  yang dianggap  sakral. Selain itu  pada setiap tahunnya mereka  mengadakan selamatan  laut dengan  membuang kepala kerbau. Itu karena Tanjung juga terletak tak jauh dari laut.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat Karanganyar sangat terbelakang. Mereka belum  mengenal  peradaban baru sama sekali. Hal itu  terlihat  dengan maraknya perjudian, perampokan, pencurian dan tempat Pekerja Seks Komersial (PSK).
Lain lagi  dalam bidang ekonomi. Masyarakat Karanganyar termasuk  masyarakat yang sangat bergantung pada alam. Mereka menganggap bahwa  jika yang diberikan alam sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan, maka mereka pindah ke tempat lain atau mencari makan di daerah lain.  Tempat yang mereka pilih terutama di daerah pinggiran  laut (pantai) yang  banyak  pohon  bakaunya untuk dimakan. Sedangkan  lahan pertanian  yang  ada  hanya dikuasai  oleh  beberapa orang.
Dengan demikian, Karanganyar waktu itu merupakan desa “mati”, karena  disamping  daerahnya  masih  dipenuhi  dengan  hutan  jati  dan  penuh  dengan  semak belukar  yang  tidak menghasilkan  nilai ekonomis, juga  karena masyarakatnya  yang  tidak  memperdulikan keadaan sekitarnya. Padahal pada sisi lain kehidupan hedonis mewarnai pemandangan sehari – hari sehingga moralitas jauh ditinggalkan.  Pada saat itu kesenangan dan kebahagiaan hanya terdapat pada perbuatan yang penuh dengan kemaksiatan dan kenungkaran.

Kedatangan Pendiri
Dalam situasi dan kondisi sosial masyarakat desa Tanjung seperti itulah, KH Zaini Mun’im –setelah mendapatkan restu dan perintah dari KH Syamsul Arifin, ayah KH. As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo—memutuskan untuk menetap dan bertempat tinggal bersama keluarganya di desa ini. Sebelum memutuskan untuk bertempat tinggal di desa Karanganyar, KH Zaini Mun’im mengajukan tempat-tempat lainnya dengan membawa contoh tanah pada KH Syamsul Arifin.  Daerah yang pernah diajukan oleh KH Zaini Mun’im selain tanah desa Karanganyar ini adalah daerah Genggong Timur, dusun Kramat  Kraksaan Timur, desa Curahsawo Probolinggo Timur, sebuah dusun di daerah kebun kelapa Jabung, dan dusun Sumberkerang. Setelah diseleksi contoh tanahnya oleh KH Syamsul Arifin, maka KH Zaini Mun’im diperintahkan untuk menetap di Desa Karanganyar.
samping itu, isyarat lainnya juga mengarah ke Desa Karanganyar. Pertama, ketika KH Zaini Mun’im mengambil contoh tanah di Desa Karanganyar, tiba-tiba beliau menemukan sarang lebah. Hal ini kata orang-orang waktu sebagai isyarat jika beliau menetap dan mendirikan pondok pesantren di Desa Karanganyar,  maka akan banyak santrinya. Kedua, isyarat yang datang dari KH Hasan Sepuh Genggong. Suatu saat ketika beliau mendatangi suatu pengajian dan melewati desa Karanganyar, beliau berkata kepada kusir dokarnya, “di masa mendatang, jika ada kiai atau ulama yang mau mendirikan pondok di daerah sini (Desa Karanganyar), maka pondok tersebut kelak akan menjadi pondok yang besar, dan santrinya kelak akan melebihi santri saya.  Ketiga,adalah isyarat dari alam itu sendiri, di mana kondisi tanahnya yang bagus dan masalah air tidak menjadi masalah. Di samping itu Desa Karanganyar merupakan tempat yang jauh dari keramaian kota (Kraksaan), sehingga sangat cocok untuk mendirikan sebuah tempat pendidikan.
Setelah terjadi kesepakatan antara KH. Zaini Mun’im dengan H. Tajuddin pemilik tanah di desa Karanganyar itu, yang ditukarkan dengan tanah beliau yang ada di Madura, maka dengan berbekal satu batang lidi, beliau terus berjalan menelusuri tanah yang sudah menjadi miliknya itu, sehingga semua hewan dan binatang buas serta membahayakan itu lari dan meninggalkan hutan jati itu menuju utara desa Grinting. Selama satu tahun lebih beliau membabat hutan, mendirikan rumah, membangun surau kecil, dan mengubah hutan menjadi tegalan.

Awal Mula Berdirinya Pesantren
Kedatangan KH. Zaini Mun’im pada tanggal 10 Muharram 1948 di desa Karanganyar, awalnya tidak bermaksud untuk mendirikan Pondok Pesantren. Tapi beliau mengisolir diri dari keserakahan dan kekejaman kolonial Belanda, dan beliau ingin melanjutkan perjalanan ke pedalaman Yogyakarta untuk bergabung dengan teman-temanya.
Sebenarnya, cita-cita KH. Zaini Mun’im dalam menyiarkan agama Islam akan beliau salurkan melalui Departemen Agama (Depag). Namun, niat itu menemui kegagalan, sebab sejak beliau menetap di Karanganyar, beliau mendapat titipan (amanat) Allah berupa dua orang santri yang datang kepada beliau untuk belajar ilmu agama. Kedua orang tersebut bernama Syafi’uddin berasal dari Gondosuli, Kotaanyar Probolinggo dan Saifuddin dari Sidodadi Kecamatan Paiton, Probolinggo.
Kedatangan kedua santri tersebut oleh beliau dianggap sebagai amanat dari Allah yang tidak boleh diabaikan. Dan mulai saat itulah beliau menetap bersama kedua santrinya. Namun tidak seberapa lama, beliau ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di LP. Probolinggo, karena waktu itu beliau memang termasuk orang yang dicari-cari oleh Belanda sejak dari Pulau Madura. Belanda menganggap beliau sebagai orang yang berbahaya, karena beliau—menurut Belanda—mampu mempengaruhi dan menggerakkan rakyat untuk melawan mereka (penjajah Belanda).
Dalam LP. Probolinggo, beliau dipaksa untuk memberitahukan keberadaan teman-temannya kepada Pemerintah Belanda. Tapi dengan jiwa besar beliau tidak menjelaskan walaupun dipaksa. Beliau sangat kuat memegang semboyan “liberty or dead ”—merdeka atau mati. Setelah sekitar tiga bulan dipenjara, kemudian beliau dikembalikan lagi ke Karanganyar untuk mengasuh santri-santrinya yang sedang  menunggu kedatanganya.
Sejak saat itulah, KH. Zaini Mun’im membimbing santri-santrinya yang sudah mulai berdatangan  dari berbagai penjuru seperti Muyan, Abd. Mu’thi, Arifin, Makyar, Baidlawi, dan Jufri. Mereka ada yang berasal dari Madura, Situbondo, Malang, Bondowoso dan Probolinggo.
Dengan banyaknya santri yang berdatangan, KH. Zaini Mun’im kemudian merasa berkewajiban untuk mendidik mereka. Dan mulai saat itu pula beliau memutuskan untuk tidak bergabung dengan teman-temannya di pedalaman Yogyakarta.
Dalam keadaan yang sudah mulai damai dan nyaman, KH. Zaini Mun’im dikejutkan oleh surat panggilan yang datangnya dari Mentri Agama (waktu itu adalah KH. Wahid Hasyim). Beliau diminta untuk menjadi penasehat jama’ah haji Indonesia. Dan tawaran tersebut beliau terima.
Kesediaan beliau tersebut, selain untuk memenuhi tugas juga untuk memenuhi keinginan beliau dulu yang ingin menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok tanah air Indonesia melalui Depag. Hal ini juga sesuai dengan semboyan beliau bahwa; “Hidup saya akan diwaqafkan untuk penyiaran dan meninggikan agama Allah”.
Ketika KH. Zaini Mun’im berada di Mekkah, mendampingi jamaah haji Indonesia—sebagai penasehat. Pesantren yang sebelumnya beliau asuh, untuk sementara beliau tinggalkan dan sementara waktu digantikan oleh KH. Sufyan. KH. Sufyan adalah santri yang ditugaskan oleh KH. Hasan Sepuh (Pengasuh PP. Zainul Hasan Genggong, Kraksaan) untuk membantu KH. Zaini Mun’im sambil mengaji kepada beliau.
Sejak itulah KH. Zaini Mun’im mulai dikenal di masyarakat karena keuletan dan keberanian serta ketabahannya. Disamping pembantunya yang bernama KH. Sufyan yang sudah dikenal oleh masyarakat luas karena sering memberi bantuan kepada masyarakat, terutama keampuhan doa-doanya.
Pada saat itu jumlah santri yang sudah menetap di PP. Nurul Jadid  sekitar 30 orang di bawah bimbingan KH. Munthaha dan KH. Sufyan. Dengan kharisma yang dimiliki oleh KH. Sufyan, beliau dengan mudah membangun beberapa pondok yang terbuat dari bambu (cankruk) untuk tempat tinggal para santri pada waktu itu.
Sepulangnya KH. Zaini Mun’im dari tanah suci terlihat beberapa gubuk sudah berdiri, maka tergeraklah hati beliau untuk memikirkan masa depan para santri-santrinya. Mulailah KH. Zaini Mun’im bersama santri-santrinya membabat hutan yang ada di sekitarnya sehingga berdirilah sebuah Pesantren yang cukup besar seperti pembaca lihat sekarang.
Nama Nurul Jadid
Pesantren yang diasuh KH. Zaini Mun’im ini nampaknya mendapat pengakuan yang cukup luas di kalangan masyarakat. Terbukti dengan semakin banyaknya jumlah santri yang berdatangan dari segala penjuru tanah air, bahkan dari luar negeri (Singapura dan Malaysia).
Nama Pesantren, yang sekarang  terkenal dengan Nurul  Jadid, bermula pada saat KH. Zaini Mun’im didatangi seorang tamu, putra gurunya (KH. Abd. Majid) bernama KH. Baqir. Beliau mengharap kepada KH. Zaini Mun’im untuk memberi nama Pesantren yang diasuhnya dengan nama “Nurul Jadid” (Cahaya Baru). Namun pada saat itu pula, KH. Zaini Mun’im menerima surat dari Habib Abdullah bin Faqih yang isinya memohon agar Pesantrennya diberi nama “Nurul Hadis”.
Habib Abdullah bin Faqih mengharap agar nama Pesantren yang diasuh oleh KH. Zaini Mun’im itu mirip dengan nama Pesantren yang beliau asuh, yaitu PP. Darul Hadits Malang. Habib Abdullah bin Faqih  memang  mengakui terhadap kealiman KH. Zaini Mun’im terutama dalam bidang tafsir. Sehingga tidak heran jika KH. Zaini Mun’im memberi pelajaran tafsir bil l- imlak kepada santri-santrinya.
Dengan adanya dua nama yang diajukan oleh KH. Baqir dan Habib Abdullah bin Faqih antara “Nurul Jadid” dan “Nurul Hadits”, maka KH. Zaini Mun’im memilih nama “Nurul Jadid” untuk diabadikan sebagai nama Pesantrennya. Ternyata nama itu cukup berarti dalam dinamika perkembangan zaman. Sebab kiprah PP. Nurul Jadid sudah diakui oleh berbagai pihak. Terutama dalam kepeduliannya ikut menciptakan manusia seutuhnya seperti yang pembaca lihat saat ini. Sementara Dr. KH. Idham Cholid (Ketua Umum PBNU waktu itu), ketika berkunjung ke PP. Nurul Jadid pernah memberikan predikat kepada Pesantren ini dengan nama “Cahaya Modern”.
Perubahan Desa Karanganyar
Secara pelan-pelan, kehidupan masyarakat mulai ada perubahan. Hal ini berkat ketekunan KH. Zaini Mun’im bersama santri-santrinya. Mereka disadarkan dengan sentuhan agama. Akhirnya timbul suatu kesadaran dikalangan mereka bahwa merekalah yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa merubah cara hidupnya, terutama dalam kehidupan sosial ekonomi.
Setelah kesadaran beribadah mereka mulai tumbuh dan menyentuh hati nuraninya ~ terbukti dengan munculnya beberapa mushalla ~ maka masyarakat Karanganyar oleh KH. Zaini Mun’im dikenalkan dengan tanaman baru, tembakau, yang bibitnya dibawa dari Madura. Awalnya, bibit  tersebut sebagai percobaan di desa Karanganyar. Tapi, seiring perkembangannya ternyata tanaman ini cocok dengan keadaan tanah Desa Karanganyar dan bisa mengangkat perekonomian masyarakatnya. Hingga akhirnya, tanaman ini menjadi penghasilan pokok masyarakat Karanganyar dan bahkan masyarakat di luar Paiton.
Dalam sisi lainnya, upaya yang dilakukan KH. Zaini Mun’im bersama santri-santrinya, juga cukup memberikan hasil yang memuaskan. Terbukti dengan pupusnya kepercayaan mereka terhadap roh ghaib dan semakin rendahnya kasus pencurian, pemerkosaan, perjudian, serta lenyapnya gembong PSK. Dan seiring itu pula, tumbuhlah semangat yang menyala-nyala dalam mempertahankan kehidupan menuju keluarga sakinah (keluarga bahagia dunia-akhirat).
Upaya perubahan yang dilakukan oleh KH. Zaini Mun’im dan segenap santri-santrinya terhadap masyarakat Karanganyar tersebut, kemudian dibalas dengan sikap simpatik masyarakat berupa dukungan terhadap perkembangan PP. Nurul Jadid. Di antaranya adalah dukungan masyarakat Karanganyar terhadap berdirinya Lembaga Pendidikan mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT).
Nurul Jadid Dari Masa Ke Masa
Masa Cikal Bakal (1948 – 1976)
Keberadaan PP Nurul Jadid tak lepas dari konstruksi kemasyarakatan yang mencitakan suatu transendensi atas perjalanan historisitas sosial. Hal yang menjadi titik penting adalah kenyataan eksistensi pesantren sebagai salah satu pemicu terwujudnya kohesi sosial. Keniscayaan ini karena pesantren hadir terbuka dengan semangat kesederhanaan, kekeluargaan dan kepedulian sosial.
Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid memang bukan sekedar untuk pemenuhan kebutuhan keilmuan, melainkan juga penjagaan budaya, penyebaran etika dan moralitas keagamaan. Tak heran, pada periode awal ini santri lebih diarahkan agar lebih memahami bentuk aplikasi dari teori ilmu-ilmu keagamaan yang mereka pelajari dalam kitab-kitab kuning. Sehingga nantinya, para santri bisa mengamalkan teori ilmu-ilmu keagamaan secara tepat dan benar ketika sudah terjun di tengah-tengah masyarakat. Bentuk aplikasi ilmu keagamaan tersebut dilakukan dalam bentuk pendampingan kepada masyarakat.
Hal itu bisa dilihat misalnya dalam bidang ekonomi, khususnya pertanian. Sektor ekonomi ini dijadikan prioritas. Hal ini tidak lepas dari pendapat beliau bahwa jika bidang perekonomian suatu masyarakat lemah, maka acapkali hal itu menjadi salah satu pemicu tumbuh-berkembangnya perilaku amoral dan kufur. Pendapat itu beliau utarakan setelah beliau melakukan analisa terhadap situasi dan kondisi perekonomian masyarakatnya amat rendah. Selain itu, Karanganyar juga terkenal sebagai pusatnya bromocorah. Namun, tanah di Karanganyar sebenarnya merupakan kategori tanah yang cukup produktif. Hanya saja, masyarakatnya belum bisa memanfaatkannnya dengan baik.
Setelah perekonomian masyarakat mulai meningkat melalui pemanfaatan tanah pertanian, mulailah dimasukkan ajaran dan nilai-nilai agama islam dalam kehidupan masyarakat Karanganyar. Hal lainnya adalah pendalaman ilmu agama melalui sistem pendidikan non formal. Pola pendidikan dan pembinaan semacam itu dilakukan, baik kepada santri maupun kepada masyarakat sekitar pesantren. Pengajian kitab dilakukan dengan berbagai metode. Mulai dari bandongan, sorogan dan takhassus. Sementara itu pemberian makna dalam pengajian kitab kuning menggunakan bahasa indonesia. Sehingga pesantren Nurul Jadid merupakan pesantren pertama yang menggunakan bahasa Indonesia dalam menerangkan dan menterjemahkan kitab-kitab yang dikajinya.
Sementara dalam bidang lembaga pendidikan, diterapkan sistem pendidikan yang sistematis dan terprogram dengan baik sehingga akan menghasilkan out put yang kompeten dalam berbagai bidang dan bisa mengabdikan dirinya, baik bagi agama dan atau tanah air. Sehingga Di periode awal ini pula sudah mulai berdiri beberapa lembaga pendidikan formal. Di antara beberapa lembaga pendidikan tersebut, antara lain seperti Madrasah Ibtidaiyah Agama (MIA). MIA didirikan bersama-sama masyarakat pada tahun 1950. Saat itu, MIA yang terletak di luar Pesantren itu menggunakan sistem sebagaimana yang diterapkan di sekolah-sekolah umum.
Selain mendirikan MIA, berdiri pula lembaga pendidikan taman kanak-kanak Nurul Mun’im. Pada saat yang sama dirintis sebuah sistem pendidikan model klasikal yang dulunya dikenal sebagai sistem khairiyah. Dalam sistem khairiyah itu, diterapkan sistem pendidikan yang sistematis dan terprogram. Sementara itu, materi pelajarannya tidak hanya terbatas pada pelajaran-pelajaran agama. Namun pelajaran umum juga sudah diajarkan. Seperti matematika, bahasa indonesia, ilmu tata negara dan lainnya.
Dalam rangka menerapkan sistem pendidikan yang sistematis dan terprogram itu pula, dirintis berdirinya sebuah lembaga yang—waktu itu—diberi nama Flour Kelas. Lembaga ini dibentuk sebagai pendidikan lanjutan bagi santri yang akan meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selanjutnya, tahun 1961, lembaga pendidikan Flour Kelas ini berubah nama menjadi Mu’allimin. Dan pada tahun 1964, mulai diajarkan materi bahasa inggris, sejarah, geografi, biologi, dan sebagainya.
Dalam perjalanan berikutnya Madrasah Mu’allimin, pada tahun  tahun 1969, berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dan selang tiga tahun kemudian, status MTs ini dinegerikan. Selain lembaga yang berafiliasi ke Depag berdiri Sekolah Dasar Islam (SDI) pada tahun 1974. Lembaga ini, mulanya untuk menampung aspirasi masyarakat yang enggan menyekolahkan putra-putrinya ke dalam lembaga pendidikan Nurul Jadid yang lokasinya berada di dalam Pesantren. Dua tahun kemudian, SDI menempati lokasi baru dan namanya berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Mun’im (MINM) yang sekaligus merupakan lembaga pendidikan formal tingkat dasar.
Satu tahun kemudian (1975), ketika kalangan masyarakat dan pemerintah sedang bersemangat mensosialisasikan prospek pendidikan agama, maka Yayasan Pesantren Nurul Jadid mendirikan sebuah lembaga Pendidikan Guru Agama Nurul Jadid (PGANJ) berjenjang 6 tahun. Dengan berdirinya PGANJ ini, diharapkan para santri dapat mendarma baktikan dirinya dalam dunia pendidikan, baik di dalam lingkungan pemerintahan maupun swasta. Tapi dalam proses perjalanannya, PGANJ ini hanya bertahan tiga tahun.
Pada tanggal 20 Juli 1968, melalui musyawarah kerja Wilayah NU Jawa Timur di Lumajang, dibentuklah panitia usaha pendidikan Akademi Dakwah dan Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU) yang berada di bawah pengawasan Partai Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Selanjutnya, ADIPNU tersebut didirikan di Pesantren Nurul Jadid yang dalam pelaksanaannya diserahkan kepada Kiai Zaini. Dan dua bulan kemudian, tepatnya 1 September 1968, KH. Idham Chalid selaku Ketua Umum PBNU waktu itu membuka secara resmi ADIPNU di Pesantren Nurul Jadid.
Periode Pembinaan dan Penataan (1976 – 1984)
Pada periode ini, ditata sebuah formulasi atas sebuah khazanah intelektual yang mumpuni. Kenyataan yang paling nampak adalah kualifikasi keahlian masing-masing, dan bahkan ada yang menjadi standar budaya kaum santri. Sehingga para santri dalam benak hatinya selalu memiliki beban untuk senantiasa tafaqquh fi al-din, mendalami ilmu agama yang nantinya akan ditunggu hasilnya oleh umat. Hal penting yang perlu  digaris bawahi adalah bahwa pada periode kedua ini, instink manajerial telah mampu mengadaptasi segala respon positif serta kreasi-kreasi inofatif. Implementasi dari aktifitas tersebut selalu dijiwai petunjuk tentang strategi melaksanakan tugas perjuangan.
Pendekatan kearifan dengan senantiasa melihat kondisi psikologi, sosial dan kultural santri. Selain itu juga dilakukan suatu pendekatan komunikasi melalui lisan maupun teladan tindakan dalam rangka transfer of value kepada santri. Tak kalah pentingnya pengembangan kehidupan rasional yang selalu mengedepankan eksplorasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangunan seperti inilah yang  digagas oleh KH Hasyim Zaini (pengasuh kedua) dalam pembinaan dan penataan PP Nurul Jadid sejak 1976 – 1984.
Wal-Hasil, di satu pihak PP Nurul Jadid diupayakan terus menyesuaikan dirinya dalam konteks modernitas dan tetap mempertahankan tradisi lampau di lain pihak. Dalam hal kepemimpinan pesantren diterapkan kepemimpinan kolektif. Yaitu diasuh secara bersama – sama oleh 7 orang pengasuh. Walaupun secara struktural, kepemimpinan pondok dijabat oleh seorang pengasuh saja. Akan tetapi dalam operasionalnya diterapkan kepemimpinan kolektif.
Di sektor pendidikan, santri terus diupayakan untuk tafaqquh fi al din. Dalam bidang keilmuan santri terus ditempa untuk menguasai khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab kuning. Utamanya mereka yang duduk dijenjang MI, MTs dan MA. Sedangkan bagi mereka yang duduk di bangku SLTP dan SMU diarahkan untuk menguasai ilmu pengetahuan khususnya MAFIKIB. Namun bukan berarti mereka tidak menguasai bidang keagamaan. Itu karena pendalaman keagamaan digalakkan di asrama santri. Jadi, pola pendidikan dan pembinaan pada periode pendidikan dan pembinaan dilakukan secara integral. Sehingga terjadi sebuah proses yang saling mendukung antara program di sekolah dan kegiatan di asrama.
Selanjutnya, karena adanya perubahan dari Sisdiknas, maka pada tahun 1977 (satu tahun setelah wafatnya Kiai Zaini) PGANJ 6 tahun berubah menjadi MTs untuk kelas I, II, dan III. Sedangka kelas IV, V dan VI menjadi Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Pada jenjang pendidikan tinggi juga mulai terlihat adanya peningkatan. Pada tahun 1979/1980 dirintis berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Syariah. Hal lainnya adalah, membekali santri dengan life skill melalui pendelegasian mengikuti pelatihan, baik tingkat wilayah maupun tingkat nasional. Pada periode penataan dan pembinaan ini pula mulai dirintis adanya ketrampilan santri. Mulai dari elektro, jahit menjahit, pertanian serta skill kebahasaan (arab-inggris).
Selain juga, para santri dan alumni dianjurkan untuk mengisi birokrasi. Jumlah santri pada masa KH Hasyim Zaini meningkat drastis. Pada tahun 1983, jumlah santrinya mencapai sekitar 2000 santri.
Periode Pengembangan (1984 – 2000)
Meski kesibukannya di luar pesantren sangat padat, KH A Wahid Zaini (pengasuh ketiga) tetap bisa mengurus pesantren dengan baik. Pada masa beliau  PP Nurul Jadid mengalami perkembangan yang sangat pesat. Baik mengenai jumlah santri maupun pelayanan dan pengembangan  kemasyarakatan. Tokoh pesantren yang punya pemikiran modern ini tak hanya mendidik para santrinya agar mampu memahami ilmu-ilmu agama dan tekhnologi. Lebih dari itu pada masa kepemimpinannya, KH A Wahid Zaini mendorong memajukan dan kemandirian masyarakat sekitar pesantren lewat pendidikan, ekonomi dan kesehatan.
Dalam bidang pendidikan, dilakukan pembenahan mulai dari TK (Taman Kanak-Kanak) hingga pendidikan tinggi. Pembenahan itu antara lain dilakukan pada TK Nurul Muni’m pada tahun 1989 dengan menjalin kerjasama antara PKBI (perkumpulan keluarga berencana indonesia) dan Pesantren Nurul Jadid. TK Nurul Mun’im kemudian berubah menjadi TK. Bina Anaprasa.
Satu tahun kemudian beberapa lembaga pendidikan yang sebelumnya hanya memiliki status terdaftar dan diakui diusahakan menjadi disamakan. Dengan peningkatan status ini, lembaga pendidikan tersebut sejajar dengan lembaga pendidikan negeri. Beberapa lembaga tersebut adalah SMUNJ yang disamakan pada tahun 1990, SMPNJ yang disamakan pada tahun 1991, dan MTsNJ serta MANJ yang disamakan pada tahun yang sama yaitu 1997.
Pada tahun 1992, di Pesantren Nurul Jadid juga telah dirintis berdirinya Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK). Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan anak didik memahami kitab klasik dan juga mampu berbahasa asing (arab dan inggris). Selanjutnya pada tahun 1995, berdasarkan kurikulum baru, lembaga pendidikan MAPK ini berubah nama menjadi MAK.
Sementara itu, upaya-upaya pengembangan juga terjadi pada jenjang pendidikan tinggi. Seperti perubahan status dari PTID menjadi Institut Agama Islam Nurul Jadid (1986). Perubahan itu karena bertambahnya konsentrasi keilmuan di tubuh PTID menjadi tiga fakultas. Yaitu Fakultas Dakwah, Tarbiyah dan Syari’ah dengan dua jurusan pada masing-masing fakultas. Kemudian pada tahun 1999 masing-masing fakultas tersebut lolos akreditasi Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Selain itu di bidang teknologi komputer juga dilakukan berbagai pengembangan. Untuk menjawab tantangan dalam bidang information technology (IT), pada tahun 1999 didirikan STT (Sekolah Tinggi Teknologi) Nurul Jadid yang semula hanya berupa kursus komputer. Kursus tersebut kemudian berkembang menjadi program Diploma I yang kemudian dikembangkan menjadi AKOMI (Akademi Komputer Manajemen Informatika). Yang pada akhirnya lembaga itu berkembang menjadi salah satu lembaga pencetak lulusan yang hingga saat ini telah tersebar hampir di seluruh lembaga pendidikan berbasis IT di Probolinggo.
Pesantren juga menggalakkan pengembangan bahasa asing. perkembangan ini terlihat dengan berdirinya LPBA (lembaga pengembangan bahasa asing) yang menjadi cikal bakal pendidikan D1 bahasa inggris. LPBA diharapkan dapat menghidupkan ghirah berbahasa asing di masing-masing gang (sebuah istilah untuk menunjuk tempat tinggal santri sehari-hari). Sehingga diharapkan bahasa arab dan inggris akan menjadi bahasa santri sehari-hari.
Berbagai upaya mendorong memajukan dan kemandirian masyarakat sekitar pesantren juga digalakkan. Melalui BPPM (Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat ), PP Nurul Jadid antara lain mendirikan USP (unit simpan pinjam) yang dirintis tahun 2000 guna membantu para petani tembakau dan juga memberikan pendampingan pada mereka. Ide ini muncul karena petani tembakau di sekitar Paiton tidak memiliki posisi daya tawar yang kuat dihadapan para pengambil kebijakan. Padahal tembakau, merupakan pasokan utama ekonomi masyarakat Paiton. Melalui Paperton, pesantren dan masyarakat bermusyawarah seputar persoalan-persoalan pertembakauan, seperti kapasitas produksi, kapasitas daya tampung gudang dan lain-lain.
Pesantren juga merintis berbagai usaha agrobisnis berupa penanaman varietas tanaman. Seringkali tanaman petani hanya sejenis. Akibatnya, kalau satu terserang hama, semua tanaman akan ludes. Usaha lainnya berupa peternakan dan perikanan. Untuk membantu masyarakat memperoleh  pelayanan kesehatan yang baik, Ponpes juga mendirikan BP (balai pengobatan) Azzainiyah yang semula bernama Usaha Pelayanan Kesehatan Santri (UPKS). Juga panti asuhan untuk menampung anak-anak dari kalangan ekonomi lemah.
Kepengasuhan pesantren kemudian dilanjutkan oleh KH. Moh. Zuhri Zaini, pada masa beliau dilakukan pembenahan dalam struktur Pondok Pesantren seperti dibentuknya Dewan Pengasuh, koordinatorat sebagai lembaga yang membantu pengasuh, restrukturisasi BPPM, pembentukan bagian khusus yang menangani pembinaan Al-Qur’an. Pada masa ini pula didirikan Ma’had Aly yang memiliki konsentrasi dalam pembinaan kader dakwah.

Untuk peningkatan kinerja organisasi pesantren, dilakukan beberapa langkah yang mengarah kepada pembenahan infrastruktur manajemen pesantren seperti pengadaan Local Area Network (LAN) sebagai penghubung elektronik antar lembaga di Pondok Pesantren, sentralisasi data, pembuatan website, dan pembakuan lembar pesantren.

Pesantren Zainul Hasan Genggong

Salah satu pesantren salaf tua di Indonesia adalah Pesantren Genggong. Genggong adalah nama sejenis bunga. Bunga ini banyak tumbuh di sebuah desa bernama Karangbong. Desa ini terletak di Kecamatan Pajarakan, ± 25 km arah timur Kabupaten Probolinggo. Sebelum berada di Kecamatan Pajarakan, dulu Pesantren Genggong berada di wilayah Kawedanan Kraksaan. Menurut cerita, dulu bunga ini sering digunakan oleh masyarakat untuk riasan penganten, khitan (sunat), dan beberapa keperluan-keperluan lain.

Genggong

Seiring dengan berjalannya waktu, perhatian masyarakat pada bunga ini berkurang hingga bunga Genggong tidak pernah lagi terlihat di desa tersebut. Tidak ada masyarakat yang pernah lagi melihat bunga ini tumbuh. Masyarakat pun menganggap bunga ini telah punah.Adalah KH. Zainul Abidin, seorang ulama keturunan Maghrabi (Maroko), pada tahun 1259 h/1839 m mendirikan sebuah pesantren di desa tersebut. Beliau pernah menuntut ilmu di Pesantren Sidoresmo Surabaya. sayang sekali tidak ada sumber yang menyebutkan silsilah KH. Zainul Abidin dengan jelas dan terperinci. Oleh masyarakat, pesantren yang didirikan beliau dinamakan Genggong, sesuai dengan nama bunga yang dimaksud. Hingga saat naskah ini disusun, Pesantren Genggong telah diasuh oleh empat orang pengasuh. 

Pengasuh pertama sekaligus pendirinya adalah KH. Zainul Abidin. Beliau menjadi mengasuh pesantren sejak didirikan hingga wafat pada 1890 m.Di masa awal, partisipasi dan perhatian masyarakat sekitar belum begitu nampak, namun lama-kelamaan para santri makin bertambah dari tahun ke tahun sehingga diperlukan pembangunan lokasi menginap para santri yang akan bermukim. karena bangunan yang ada masih belum cukup untuk menampung jumlah santri yang semakin meningkat, maka pengajian-pengajian dilakukan di tempat-tempat darurat selama masih layak ditempati. perlahan, bangunan-bangunan yang disebut kotakan tersebut mulai berdiri berkat usaha KH. Zainul Abidin serta dukungan dari masyarakat sekitar dan para wali santri. Kotakan adalah istilah lain dari kamar untuk menyebut tempat menginap santri pada masa awal berdirinya Pesantren. Kotakan ini terbuat dari bahan bambu dan kayu. 

Biasanya satu kotakan bisa ditempati oleh beberapa orang santri. Jumlah santri yang tinggal di satu kotakan tergantung dari besar dan luasnya kotakan.Berkat ketekunan dan kesabaran dalam melayani para santrinya yang mengaji, makin hari makin banyak santri yang datang untuk menuntut ilmu. Ini adalah buah yang dipetik KH. Zainul Abidin yang telah dilihat langsung dan didengar oleh masyarakat. berkat ilmu dan keahliannya, maka mulai berdatangan orang tua santri untuk menitipkan putranya kepada beliau.Pengasuh kedua adalah KH. Mohammad Hasan. Beliau adalah menantu KH. Zainul Abidin dari putri beliau yang bernama Nyai Ruwaidah. Sejak pernikahan inilah KH. Mohammad Hasan membantu mertuanya dalam membina pesantren. Beliau mengembangkan sistem pendidikan pesantren salafiyah (tradisional) dengan metode pembelajaran dan pendidikan klasikal. Masa ini bersamaan dengan perjuangan fisik kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Organisasi-organisasi pergerakan yang bersifat nasional maupun lokal mulai terbentuk. 

Di tengah situasi tersebut itulah KH. Mohammad Hasan mengasuh pesantren. Beliau menjadi pengasuh pesantren sejak wafatnya KH. Zainul Abidin tahun 1890-1952 m. Beliau wafat pada tahun 1955 m.Pengasuh ketiga adalah KH. Hasan Saifouridzall. Beliau adalah putra KH. Mohammad Hasan dari pernikahan dengan istri beliau yang bernama Nyai Hj. Siti Aminah. Pada masa beliaulah pengembangan pendidikan formal mulai dilakukan dengan memadukan kurikulum pendidikan agama dan salafiyah dengan kurikulum nasional yang ditandai dengan membuka lembaga pendidikan dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Beliau menjadi pengasuh pesantren tahun sejak tahun 1952 hingga wafat pada 1991 m. Sebenarnya KH. Mohammad Hasan wafat pada 1955 m., namun kepemimpinan pesantren telah diserahkan pada tahun 1952 m. di saat KH. Mohammad Hasan sudah berusia senja. Kepengasuhan keempat diteruskan oleh KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah. Beliau adalah putra KH. Hasan Saifouridzall dari pernikahan dengan Nyai Hj. Himami Hafshawati. Beliau menjadi pengasuh pesantren sejak tahun 1991 m.

Selama perjalanannya pesantren ini telah mengalami 3 kali perubahan nama yang digunakan secara bergantian. Genggong adalah nama pertama pesantren ini. Nama genggong digunakan sejak awal berdirinya pada tahun sampai tahun 1952 m. Saat bernama genggong, pesantren ini telah diasuh oleh 2 (dua) orang pengasuh, yaitu KH. Zainul Abidin dan KH. Mohammad Hasan.Perubahan nama untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1952 m. Nama genggong secara formal dirubah menjadi Asrama Pelajar Islam Genggong, disingkat APIG. Nama ini digunakan sampai tahun 1959 m. Perubahan ini terjadi pada masa kepengasuhan KH. Hasan Saifouridzall. Perubahan kedua ialah dengan mengganti APIG dengan Zainul Hasan. Nama ini ditetapkan sejak tanggal 19 juli 1959 m./1 muharram 1379 h. Nama Zainul Hasan ini diambil dari nama dua tokoh yang telah membesarkan Pesantren Genggong. 

Nama Zainul diambil dari nama KH. Zainul Abidin sebagai pendiri Genggong, sedangkan nama Hasan diambil dari nama KH. Mohammad Hasan, pengasuh kedua. Perubahan-perubahan nama tersebut tidak sepenuhnya dipahami masyarakat. Secara formal, nama pesantren ini adalah Zainul Hasan, namun masyarakat umum lebih mengenal nama Genggong dan tetap menyebutnya demikian.Pesantren Genggong didirikan atas dasar cita-cita mulia dan luhur serta tanggung jawab secara keilmuan melihat fenomena masyarakat awam yang perlu mendapatkan sentuhan ilmu pengetahuan dan agama. 

Perilaku masyarakat pada awal berdirinya pesantren banyak bertentangan dengan nilai-nilai agama seperti melakukan perbuatan dosa besar kepada Allah SWT. Atas dasar itulah pesantren ini didirikan.Keberadaan Pesantren Genggong di tengah-tengah kehidupan masyarakat mendatangkan banyak manfaat bagi daerah sekitarnya. Sektor-sektor kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya perlahan mulai terangkat dan terbenahi. Mentalitas masyarakat yang masih terpaku pada sistem adat-istiadat lama yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai agama perlahan diperbaiki. Upaya perubahan yang dilakukan Pesantren Genggong mendapatkan simpati masyarakat dengan mendukung perkembangan pesantren.Kelak ketika santri telah pulang ke masyarakat, mereka diharapkan mampu mewarnai kehidupan masyarakat dengan tetap berpegang pada satu prinsip yang disebut “Satlogi Santri” yang digagas oleh KH. Hasan Saifouridzall. Satlogi santri ini merupakan kependekan dariS (sopan santun)A (ajeg/istiqomah)N (nasehat)T (taqwallah)R (ridlallah)I (ikhlas).